smkn1bekasi
Sulap 1.800 Ton Sampah Jadi Listrik: Mengintip Megaproyek PSEL 3 Triliun di Kota Bekasi
26 Oktober 2026

Dengan populasi yang menembus angka lebih dari 3 juta jiwa, Kota Bekasi tengah menghadapi tantangan lingkungan yang masif. Setiap harinya, terdapat sekitar 1.800 ton sampah yang harus diangkut, sementara sebagian lainnya masih kerap menumpuk di berbagai sudut kota. Menjawab krisis ini, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, memaparkan solusi inovatif melalui sosialisasi megaproyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang digelar di SMKN 1 Kota Bekasi pada Selasa, 13 Oktober 2026. Proyek yang ditargetkan beroperasi penuh pada tahun 2027 ini bukan sekadar tempat pembuangan akhir biasa, melainkan sebuah lompatan teknologi bernilai investasi Rp 3 Triliun yang siap mengubah wajah Ciketing Udik, Bantargebang, menjadi pusat energi modern.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Lebih Besar dari Summarecon: Bukan Sekadar Pabrik Dalam sosialisasi tersebut, Tri Adhianto memaparkan visi besar dari fasilitas PSEL ini. Gedung utama pengolahan ini akan dilengkapi dengan cerobong setinggi 18 meter. Namun, daya tarik utamanya terletak pada fasilitas pendukung di sekitarnya. “Besarnya akan lebih dari Summarecon,” ujar Wali Kota Bekasi. Ia menjelaskan bahwa kompleks PSEL ini nantinya tidak hanya berisi infrastruktur mesin, tetapi juga akan difasilitasi dengan ruang publik berskala besar, meliputi lapangan sepak bola, lapangan pasir, gedung olahraga tiga lantai, danau seluas satu hektar, hingga fasilitas kolam renang bertaraf internasional. Tujuan utama dari fasilitas raksasa ini difokuskan pada ketahanan energi daerah. “Jadi, energi listrik ini akan disalurkan ke seluruh Kota Bekasi, sehingga tidak ada yang kekurangan energi,” tambahnya.

Peluang Emas Generasi Muda Tanpa “Ordal” Proyek bernilai fantastis yang menjalin kerja sama strategis dengan pihak Tiongkok ini diproyeksikan akan menyerap hingga 1.100 tenaga kerja. Kabar baiknya, tenaga kerja lokal yang kompeten akan mendapatkan prioritas. Siswa-siswi SMKN 1 Kota Bekasi mendapatkan kesempatan emas untuk menjadi bagian dari tenaga kerja PSEL di masa depan. Terdapat empat kejuruan spesifik yang akan dilatih khusus untuk memenuhi standar operasional proyek ini, yaitu: 1. Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) 2. Teknik Mesin 3. Kelistrikan 4. Otomotif Industri Dalam sesi tanya jawab dengan para murid mengenai sistem kualifikasi, Tri Adhianto menegaskan komitmennya terhadap proses rekrutmen yang transparan. “Saya selalu berupaya agar anak-anak kita mampu bersaing di dunia luar,” tegasnya. Beliau juga menjamin proses rekrutmen akan berjalan profesional dengan menyatakan, “Tidak akan ada ‘ordal’ (orang dalam) atau titipan dan semacamnya yang membuat kualifikasi atau standar menjadi turun.”

Menjawab Keraguan: Bagaimana Mesin Menelan 1.800 Ton Sampah? Banyak pihak, termasuk para siswa, yang mempertanyakan kelayakan sistem pengolahan, terutama terkait bagaimana penanganan sampah basah agar tidak merusak mesin pembakaran. Solusinya terletak pada implementasi teknologi pembakaran tingkat tinggi. Di fasilitas PSEL, proses pemilahan sampah antara basah dan kering tidak lagi diperlukan. Seluruh jenis sampah akan dimasukkan ke dalam tungku dan dibakar pada suhu ekstrem yang mencapai 1.000°C. Proses operasional ini dijamin higienis, berjalan dalam sistem yang sangat tertutup, dan melewati tahapan modern berikut: 1. Pembersihan Sampah: Sampah yang masuk disiapkan dalam kondisi tertutup sebelum diproses ke dalam sistem. 2. Pembakaran Insinerator: Seluruh jenis sampah (termasuk sampah basah) dibakar habis pada suhu 1.000°C tanpa perlu proses pemilahan tahap awal. 3. Pemanfaatan Panas: Suhu panas ekstrem dari hasil pembakaran dikonversi menjadi energi uap bertekanan tinggi. 4. Pembangkit Energi Listrik: Energi uap tersebut difungsikan untuk menggerakkan turbin yang selanjutnya memproduksi energi listrik untuk didistribusikan. 5. Pengendalian Emisi Gas Buang: Gas buang disaring menggunakan teknologi modern, sehingga residu udara yang keluar dari cerobong tidak berwujud asap pekat, melainkan emisi transparan yang sesuai standar baku mutu. 6. Pengelolaan Residu: Sisa abu dari proses pembakaran akan dikelola secara terpadu agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Megaproyek PSEL di Ciketing Udik ini bukan hanya tentang menuntaskan persoalan 1.800 ton volume sampah harian, melainkan sebuah inisiatif strategis dalam menciptakan lapangan kerja bersih, mewujudkan kemandirian energi, serta menyediakan ruang publik yang representatif bagi warga Kota Patriot.

Penulis Gavyn Athaya Kurniawan

Editor: Andaru Nugraha